![]() |
| Local Photo by. Eep (2023) Pelatihan TBTQ Cileunyi Bandung |
Memperdalam Makna dan Metode: Meningkatkan Pembelajaran Al-Quran di Sekolah
Al-Quran, sebagai sumber utama ajaran Islam, menjadi fondasi spiritual
dan intelektual bagi umat Muslim. Namun, tantangan dalam memahami dan menguasai
Al-Quran tetap menjadi perjuangan, terutama di tengah arus modernisasi dan
revolusi teknologi yang memengaruhi dunia pendidikan.
Di banyak sekolah, pelajaran Tahsin, Tahfidz, dan Baca Tulis Al-Quran
(TBTQ) memiliki peran krusial dalam mendekatkan siswa dengan Al-Quran. Namun,
realitasnya menunjukkan bahwa masih banyak murid yang menghadapi kesulitan
dalam membaca dan menulis Al-Quran dengan lancar. Tidak hanya itu, pemanfaatan
teknologi dalam pembelajaran agama juga belum maksimal.
Dalam konteks ini, artikel ini bertujuan untuk menjelajahi pendekatan
konkret dalam memperbaiki pelaksanaan TBTQ di sekolah. Tujuannya adalah untuk
memotivasi siswa agar berinvestasi dalam amal jariah dan mengenalkan manfaat
penggunaan media berbasis ICT dalam proses pembelajaran agama Islam (GPAI).
Melalui langkah-langkah yang akan dijabarkan, artikel ini berupaya
memberikan solusi praktis untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam
pembelajaran TBTQ. Diharapkan, langkah-langkah ini dapat membuka pintu bagi
pemahaman yang lebih dalam terhadap Al-Quran serta memberikan inspirasi bagi
pengembangan pendidikan agama yang lebih efektif di masa yang akan datang.
Sebagaimana disampaikan oleh Pemateri Ustadz Rizal Dalil, M.Pd.I. upaya
untuk meningkatkan pelaksanaan TBTQ (Tahsin, Tahfidz, dan Baca Tulis Al-Quran)
di sekolah, berdasarkan masalah dan tujuan yang disebutkan:
Masalah yang Diidentifikasi:
-
Banyaknya murid yang belum
lancar membaca dan menulis Al-Quran.
-
Kurangnya pemanfaatan media
berbasis digital dalam pembelajaran TBTQ.
Tujuan yang Ditetapkan:
-
Memotivasi pelajar dalam
investasi amal jariah.
-
Memperkenalkan manfaat
jenis media berbasis ICT kepada pelajar GPAI.
Langkah-langkah Implementasi:
1.
Fasilitasi Murid dengan
Sentuhan Hati: Pendekatan personal dalam pembelajaran untuk memahami kebutuhan
emosional dan spiritual murid.
2.
Sesi mentoring kecil untuk
menjalin hubungan yang lebih erat antara guru dan murid.
Mempermudah Materi:
1.
Pengembangan materi yang
mudah dipahami melalui cerita, permainan, atau media interaktif.
2.
Penggunaan teknologi untuk
membuat aplikasi atau platform pembelajaran yang menarik.
Bantu Murid Belajar Mandiri:
1.
Sumber daya tambahan
seperti rekaman bacaan Al-Quran dan panduan belajar mandiri.
2.
Pengajaran strategi belajar
mandiri kepada murid.
Pemanfaatan Media Berbasis Digital:
Integrasi teknologi dalam pembelajaran dengan bantuan perangkat lunak
dan aplikasi yang mendukung pembelajaran TBTQ.
Kolaborasi dengan Orang Tua dan Komunitas:
1.
Melibatkan orang tua dalam
mendukung pembelajaran Al-Quran di rumah.
2.
Kerjasama dengan komunitas
lokal untuk mendukung pendidikan Al-Quran.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat terjadi perbaikan dalam
pelaksanaan TBTQ di sekolah, memotivasi siswa untuk berinvestasi dalam amal
jariah, dan meningkatkan pemahaman mereka akan manfaat media berbasis ICT dalam
pendidikan agama Islam.
![]() |
| Local Photo by. Eep (2023) Pelatihan TBTQ Cileunyi Bandung |
Sementara Pemateri kedua Ustadz Syamsul, M.Pd menyampaikan, tentang Implementasi Kurikulum Merdeka membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dalam merencanakan tujuan pembelajaran, rencana kegiatan, dan asesmen yang terfokus pada kompetensi dan konten yang relevan.
1.
Tujuan Pembelajaran:
-
Pemahaman Kompetensi: Menetapkan
kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa sebagai fokus utama. Ini bisa berupa
keterampilan, pengetahuan, sikap, atau nilai yang ingin ditanamkan melalui
kurikulum.
-
Keterkaitan dengan Konteks:
Menyelaraskan tujuan pembelajaran dengan kebutuhan siswa, perkembangan
lingkungan, dan tuntutan global untuk memastikan relevansi dari tujuan yang
ditetapkan.
2.
Rencana Kegiatan:
-
Desain Pembelajaran: Membuat
rencana pembelajaran yang inklusif, mencakup berbagai gaya belajar dan
mengintegrasikan teknologi serta pengalaman praktis.
-
Penggunaan Metode yang
Divers: Memperkenalkan beragam metode pengajaran yang melibatkan siswa secara
aktif, seperti diskusi kelompok, proyek berbasis masalah, pembelajaran berbasis
proyek, atau simulasi.
3.
Asesmen:
-
Penilaian Berbasis
Kompetensi: Menilai siswa berdasarkan pencapaian kompetensi yang telah
ditetapkan, bukan hanya pada penguasaan konten saja.
-
Penilaian Formatif dan
Sumatif: Menggabungkan penilaian yang bersifat formatif (berkelanjutan) dan
sumatif (akhir periode) untuk memberikan umpan balik yang kontinu kepada siswa.
-
Penggunaan Alat Penilaian
yang Beragam:
Menggunakan alat penilaian yang beragam seperti tugas proyek, ujian
lisan, portofolio, atau presentasi, untuk mengukur kemajuan siswa secara
holistik.
Penting untuk memastikan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka tidak
hanya mencakup pendekatan yang inovatif dalam menyusun tujuan pembelajaran,
rencana kegiatan, dan asesmen, tetapi juga menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan
siswa serta menumbuhkan kreativitas dan keunggulan dalam belajar. Dengan fokus
pada kompetensi dan konten yang relevan, ini akan memperkuat daya saing siswa
dalam lingkungan pendidikan yang dinamis dan terus berubah.








