Monday, December 11, 2023

Merdeka dari Batasan: Menafsirkan Kurikulum untuk Meningkatkan Daya Saing Siswa

Local Photo by. Eep (2023) Pelatihan TBTQ Cileunyi Bandung

Memperdalam Makna dan Metode: Meningkatkan Pembelajaran Al-Quran di Sekolah

Al-Quran, sebagai sumber utama ajaran Islam, menjadi fondasi spiritual dan intelektual bagi umat Muslim. Namun, tantangan dalam memahami dan menguasai Al-Quran tetap menjadi perjuangan, terutama di tengah arus modernisasi dan revolusi teknologi yang memengaruhi dunia pendidikan.

Di banyak sekolah, pelajaran Tahsin, Tahfidz, dan Baca Tulis Al-Quran (TBTQ) memiliki peran krusial dalam mendekatkan siswa dengan Al-Quran. Namun, realitasnya menunjukkan bahwa masih banyak murid yang menghadapi kesulitan dalam membaca dan menulis Al-Quran dengan lancar. Tidak hanya itu, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran agama juga belum maksimal.

Dalam konteks ini, artikel ini bertujuan untuk menjelajahi pendekatan konkret dalam memperbaiki pelaksanaan TBTQ di sekolah. Tujuannya adalah untuk memotivasi siswa agar berinvestasi dalam amal jariah dan mengenalkan manfaat penggunaan media berbasis ICT dalam proses pembelajaran agama Islam (GPAI).

Melalui langkah-langkah yang akan dijabarkan, artikel ini berupaya memberikan solusi praktis untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam pembelajaran TBTQ. Diharapkan, langkah-langkah ini dapat membuka pintu bagi pemahaman yang lebih dalam terhadap Al-Quran serta memberikan inspirasi bagi pengembangan pendidikan agama yang lebih efektif di masa yang akan datang.

Sebagaimana disampaikan oleh Pemateri Ustadz Rizal Dalil, M.Pd.I. upaya untuk meningkatkan pelaksanaan TBTQ (Tahsin, Tahfidz, dan Baca Tulis Al-Quran) di sekolah, berdasarkan masalah dan tujuan yang disebutkan:

Masalah yang Diidentifikasi:

-          Banyaknya murid yang belum lancar membaca dan menulis Al-Quran.

-          Kurangnya pemanfaatan media berbasis digital dalam pembelajaran TBTQ.

Tujuan yang Ditetapkan:

-          Memotivasi pelajar dalam investasi amal jariah.

-          Memperkenalkan manfaat jenis media berbasis ICT kepada pelajar GPAI.

Langkah-langkah Implementasi:

1.       Fasilitasi Murid dengan Sentuhan Hati: Pendekatan personal dalam pembelajaran untuk memahami kebutuhan emosional dan spiritual murid.

2.       Sesi mentoring kecil untuk menjalin hubungan yang lebih erat antara guru dan murid.

Mempermudah Materi:

1.       Pengembangan materi yang mudah dipahami melalui cerita, permainan, atau media interaktif.

2.       Penggunaan teknologi untuk membuat aplikasi atau platform pembelajaran yang menarik.

Bantu Murid Belajar Mandiri:

1.       Sumber daya tambahan seperti rekaman bacaan Al-Quran dan panduan belajar mandiri.

2.       Pengajaran strategi belajar mandiri kepada murid.

Pemanfaatan Media Berbasis Digital:

Integrasi teknologi dalam pembelajaran dengan bantuan perangkat lunak dan aplikasi yang mendukung pembelajaran TBTQ.

Kolaborasi dengan Orang Tua dan Komunitas:

1.       Melibatkan orang tua dalam mendukung pembelajaran Al-Quran di rumah.

2.       Kerjasama dengan komunitas lokal untuk mendukung pendidikan Al-Quran.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat terjadi perbaikan dalam pelaksanaan TBTQ di sekolah, memotivasi siswa untuk berinvestasi dalam amal jariah, dan meningkatkan pemahaman mereka akan manfaat media berbasis ICT dalam pendidikan agama Islam.

Local Photo by. Eep (2023) Pelatihan TBTQ Cileunyi Bandung

Sementara Pemateri kedua Ustadz Syamsul, M.Pd menyampaikan,  tentang Implementasi Kurikulum Merdeka membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dalam merencanakan tujuan pembelajaran, rencana kegiatan, dan asesmen yang terfokus pada kompetensi dan konten yang relevan.

1.       Tujuan Pembelajaran:

-          Pemahaman Kompetensi: Menetapkan kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa sebagai fokus utama. Ini bisa berupa keterampilan, pengetahuan, sikap, atau nilai yang ingin ditanamkan melalui kurikulum.

-          Keterkaitan dengan Konteks: Menyelaraskan tujuan pembelajaran dengan kebutuhan siswa, perkembangan lingkungan, dan tuntutan global untuk memastikan relevansi dari tujuan yang ditetapkan.

2.       Rencana Kegiatan:

-          Desain Pembelajaran: Membuat rencana pembelajaran yang inklusif, mencakup berbagai gaya belajar dan mengintegrasikan teknologi serta pengalaman praktis.

-          Penggunaan Metode yang Divers: Memperkenalkan beragam metode pengajaran yang melibatkan siswa secara aktif, seperti diskusi kelompok, proyek berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, atau simulasi.

3.       Asesmen:

-          Penilaian Berbasis Kompetensi: Menilai siswa berdasarkan pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan, bukan hanya pada penguasaan konten saja.

-          Penilaian Formatif dan Sumatif: Menggabungkan penilaian yang bersifat formatif (berkelanjutan) dan sumatif (akhir periode) untuk memberikan umpan balik yang kontinu kepada siswa.

-          Penggunaan Alat Penilaian yang Beragam:

Menggunakan alat penilaian yang beragam seperti tugas proyek, ujian lisan, portofolio, atau presentasi, untuk mengukur kemajuan siswa secara holistik.

Penting untuk memastikan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka tidak hanya mencakup pendekatan yang inovatif dalam menyusun tujuan pembelajaran, rencana kegiatan, dan asesmen, tetapi juga menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan siswa serta menumbuhkan kreativitas dan keunggulan dalam belajar. Dengan fokus pada kompetensi dan konten yang relevan, ini akan memperkuat daya saing siswa dalam lingkungan pendidikan yang dinamis dan terus berubah.

kontributor : Eep

0 Comments:

Post a Comment